Hak atas Udara Bersih di Balik Gemerlap Tambang Morowali

Dump trucks travel in front of a power plant inside The Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) in Morowali Regency, Central Sulawesi, Indonesia, on Sunday, July 9, 2023. The Morowali industrial park, located in the town of the same name, covers over 3,000 hectares on the eastern part of the island of Sulawesi. Photographer: Dimas Ardian/Bloomberg

MOROWALI, INDOVIBE — Di balik megahnya laju investasi hilirisasi nikel dan deru roda pengolahan mineral di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, tersembunyi krisis kesehatan publik yang terus menggerogoti warga. Laporan kesehatan daerah dalam tiga tahun terakhir menunjukkan korelasi linear yang kuat antara melonjaknya volume aktivitas pengolahan nikel dan kerentanan biologis masyarakat.

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat Kabupaten Morowali konsisten bertengger di posisi teratas daerah dengan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi se-provinsi. Peningkatan grafik kasus pernapasan ini menjadi indikator benderang bahwa lonjakan ekonomi ekstraktif di pesisir utara dan selatan Morowali dibayar mahal dengan pengorbanan kesehatan masyarakat sekitar.

Grafik Kasus Melambung

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan Morowali, tren kasus ISPA di wilayah ini menunjukkan grafik merangkak naik saban tahun. Pada tahun 2023, Dinkes mencatat sebanyak 50.482 kasus ISPA melanda warga. Memasuki tahun 2024, angka tersebut melonjak sekitar 16 persen menjadi 57.190 kasus, bahkan akumulasi spesifik seluruh jenis penyakit pernapasan pada periode akhir tahun tersebut tercatat menembus 80.713 kasus.

Puncak lonjakan terjadi pada tahun 2025, saat Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Morowali mengonfirmasi angka ISPA melonjak tajam hingga mencapai 81.261 kasus. Memasuki tahun 2026, meski laju kenaikannya dilaporkan mulai lebih terkendali dibanding lompatan dari tahun 2024 ke 2025, frekuensi kejadian di tengah masyarakat tetap berada di ambang angka yang sangat tinggi.

Penyebaran penyakit pernapasan ini tidak merata, melainkan terkonsentrasi kuat di sekitar titik lingkar industri dan koridor pengolahan bijih mineral. Kecamatan Bahodopi, episentrum aktivitas industri pengolahan nikel terbesar di Morowali yang menaungi kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), mendominasi proporsi kasus secara drastis. Laporan dinas kesehatan menunjukkan bahwa dari total kasus ISPA skala kabupaten pada akhir 2024, sebanyak 66.000 kasus atau mayoritas mutlak di antaranya berasal dari wilayah Bahodopi.

Kondisi serupa merambat ke lingkar industri baru, seperti kawasan Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP). Catatan medis Klinik BTIIG menunjukkan lonjakan pelayanan pasien terpapar ISPA yang menembus 1.951 pasien sepanjang tahun 2025. Sebagai pembanding, fasilitas kesehatan tingkat pertama penyangga kawasan seperti Puskesmas Wosu pada rentang 2023 sebelumnya hanya mencatatkan 1.148 kasus.

Pencemaran Ambien Kronis

Kajian tematik Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengenai evaluasi dampak kesehatan industri ekstraktif mengonfirmasi bahwa tingginya prevalensi penyakit pernapasan di Morowali bukanlah fenomena medis biasa bersumber dari virus musiman. Kondisi krisis ini merupakan akumulasi dampak dari pencemaran udara ambien secara kronis dan berkelanjutan di ruang hidup warga.

Komnas HAM bersama temuan riset Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Tengah mengidentifikasi dua kontributor utama yang memperburuk ambang batas kualitas udara di Morowali:

Pertama, emisi cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) captive. Untuk menjamin pasokan daya tanpa henti pada tungku-tungku pembakaran dan fasilitas smelter nikel, kawasan industri mengandalkan suplai energi mandiri skala masif dari pembakaran batubara. Di kawasan IMIP dan IHIP, beroperasi lebih dari 176 cerobong asap aktif yang melepaskan emisi ke atmosfer selama 24 jam non-stop.

Proses pembakaran batubara berulang ini membuang racun partikulat halus berukuran PM

2,5 abu terbang (fly ash), serta abu dasar (bottom ash) yang melayang terbawa angin menuju pemukiman warga terdekat.

Kedua, pencemaran debu dari rantai logistik dan pembersihan lahan. Selain kepulan asap dari cerobong PLTU, debu halus yang bersumber dari aktivitas pembersihan lahan (land clearing), tumpukan bijih nikel (ore) terbuka yang terpapar angin, serta pembongkaran muatan memperparah kondisi atmosfer harian.

Keadaan ini diperburuk oleh mobilisasi ratusan truk hauling berukuran raksasa yang lalu lalang melintasi jalan umum. Warga di Desa Topogaro serta pemukiman lingkar industri sekitarnya, seperti Desa Ambunu dan Desa Tondo, saban hari terpaksa menghirup udara bercampur debu tanah dan partikel mikro logam berat.

Mendesaknya Hak Atas Udara Bersih

Ancaman kesehatan publik di wilayah lingkar tambang dan industri nikel Morowali telah sampai pada tahap yang tidak lagi bisa dianggap remeh. Paparan partikulat halus beracun secara terus-menerus terbukti dapat menembus sistem pertahanan paru-paru, memicu peradangan kronis, hingga mengancam penurunan fungsi organ biologis masyarakat.

Rangkaian data yang terkumpul dalam tiga tahun terakhir menjadi instrumen valid berbasis fakta yang menegaskan bahwa orientasi pertumbuhan ekonomi ekstraktif telah mengabaikan salah satu hak paling mendasar warga negara: hak atas lingkungan hidup yang sehat dan udara yang bersih.

Krisis ini menuntut langkah intervensi segera dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan industri. Implementasi mitigasi emisi yang ketat, kewajiban pemasangan alat penyaring (precipitator) berstandar tinggi di seluruh cerobong PLTU captive, penyiraman rutin jalan koridor logistik, serta penyediaan stasiun pemantau kualitas udara terpadu yang transparan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi.

Di samping pembenahan lingkungan, pemerintah dan korporasi wajib menyediakan penjaminan layanan kesehatan yang komprehensif serta pemantauan berkala bagi masyarakat terdampak. Tanpa penanganan medis berjangka panjang dan regulasi lingkungan yang tegas, lonjakan kasus ISPA hari ini berisiko berkembang menjadi bencana penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan kerusakan kesehatan permanen bagi lintas generasi Morowali di masa depan. TMU

Pos terkait