INDOVIBE – Ribuan warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menggelar demonstrasi di depan Kantor Bupati Pati pada Rabu (13/8/2025) untuk menuntut mundurnya Bupati Sudewo. Aksi dipicu kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen yang meskipun telah dibatalkan, tetap menimbulkan ketidakpuasan warga.
Massa mulai berkumpul sejak pagi membawa spanduk tuntutan, keranda mayat bertuliskan “Keranda Penipu”, dan truk orasi. Lalu lintas di sekitar lokasi dialihkan. Menurut inisiator aksi Ahmad Husein, jumlah massa mencapai lebih dari 100 ribu orang, melebihi perkiraan awal.
Sekitar pukul 12.16 WIB, Bupati Sudewo muncul untuk menemui massa menggunakan mobil taktis Brimob, didampingi aparat keamanan. Saat berbicara, ia dilempari botol air mineral dan sandal oleh demonstran.
“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya akan berbuat lebih baik,” kata Sudewo dari atas kendaraan taktis.
Kericuhan terjadi setelah itu. Massa membakar satu mobil polisi, membalik kendaraan provos, dan berusaha masuk ke kantor bupati. Polisi menembakkan meriam air untuk membubarkan kerumunan. Sebanyak 37 orang terluka, dan 11 orang diduga provokator ditangkap.
Selain kenaikan PBB-P2, massa memprotes dugaan arogansi bupati, pemecatan staf honorer RSUD Pati tanpa pesangon, serta dugaan keterlibatan Sudewo dalam kasus korupsi proyek jalur kereta api di Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
Pasca-aksi, seluruh fraksi DPRD Pati sepakat membentuk panitia khusus hak angket untuk menyelidiki kebijakan bupati dan memproses pemakzulan. “Mekanismenya harus di DPRD,” kata Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Sudewo menegaskan tidak akan mundur. “Saya dipilih rakyat,” ujarnya usai aksi. Jika dimakzulkan, posisinya akan digantikan Wakil Bupati Risma Ardhi Chandra.








